promise~#3(end)

17 02 2010

Sekarang aku hanya menatap kanvas kosong dihadapanku.

Setelah beberapa menit aku mengaduk-aduk cat minyak yang ada diatas paletku, aku mulai melukis.

“jam pasir”, itulah yang saat ini ada di dalam pikiranku.

Sebuah benda yang akan terus mengalir kebawah dan tidak akan pernah kembali bisa kembali naik lagi. Mungkin aku merasa kehidupanku sekarang seperti sebuah jam pasir. Tidak ada yang bisa mengulang kembali semuanya.

Pertemuanku dengan teman-temanku, siwon-ssi, sungmin-ssi, bahkan penyakitku. Aku tidak bisa mengatakan ‘tidak mau’ dan kembali mengulang hidupku agar semuanya tidak terjadi. Tapi aku yakin dibelakang itu semua pasti banyak hal indah yang telah aku lewati.

Beberapa jam kemudian jadilah sebuah lukisan dihadapanku.

‘Sebuah jam pasir tua yang usang ditengah padang rumput yang penuh dengan bunga’

Aku menatap lukisan itu, lalu tersenyum puas.

Tidak lama setelah itu Lin ahjuma mengetuk pintu kamarku lalu masuk.

“ada apa Lin ahjuma?” tanyaku tanpa menoleh sama sekali

“ada…ada telepon dari dokter Han. Dia meminta kita untuk kesana, sekarang.” Jawab Lin ahjuma agak terbata.

Tanpa bertanya apa-apa lagi aku langsung meletakan palet dan kuas itu, lalu beranjak ke lemari pakaianku.

“gwaenchana, Youngjin-a?” tanya Lin ahjuma dengan nada khawatir.

“gwaenchana Lin ahjuma.” Balasku sambil tersenyum ke arahnya

“kalau begitu aku akan menunggumu di bawah.” Lalu Lin ahjuma keluar.

Setelah selesai aku langsung turun kebawah.

“chagia? Kau datang? Kenapa tidak bilang dulu padaku?” tanyaku riang sambil menghampiri cowo yang sudah berdiri didepan pintu ruang tamu.

“Lin ahjuma yang meneleponku. Tidak apa kan sesekali datang tanpa memberitahumu.” Balasnya sambil tersenyum.

Sungmin-ssi memang cowo yang penuh kejutan.

Malam itu saat Siwon-ssi menatapku dengan wajah yang serius menantikan jawabanku, tiba-tiba saja Heeye yang ternyata sedang menahan tawanya, langsung meledak terbahak-bahak. Byorin dan Chaeri dengan wajah kesal langsung menyenggolnya. Siwon-ssi juga langsung menyusul Heeye dan terkekeh-kekeh. Aku yang bingung hanya menatap mereka satu per satu.

Sungmin-ssi menghampiri Siwon yang masih berusaha mengendalikan tawanya itu, lalu membantunya berdiri.

Diluar perkiraanku, Sungmin-ssi tiba-tiba berlutut didepanku lalu memintaku menjadi pacarnya.

Aku pikir Sungmin-ssi sedang bercanda, tapi setelah dijelaskan ternyata awalnya mereka memang sengaja membuat adegan seperti itu agar aku marah dan mengatakan semuanya tentang perasaanku pada Sungmin-ssi dan diakhiri dengan Sungmin-ssi yang memintaku jadi pacarnya. Soal Siwon-ssi yang mengatakan suka padaku itu juga bohong.

Akhirnya malam itu tentu saja aku menerima Sungmin-ssi. setelah itu aku juga bertanya pada Sungmin soal cewe yang dipeluknya waktu disekolah ByeolParan, dan ternyata itu adalah saudara sepupunya.

Begitulah kejadian 4tahun lalu itu berakhir.

Sekarang kami semua sudah memiliki karir kami masing-masing.

Heeye, menjadi pemain biola sekaligus seorang composer muda yang terkenal, Chaeri memiliki beberapa salon kecantikan dan juga butik dikota-kota besar di korea, Byorin meneruskan sekolahnya di Amerika. Sungmin dan Siwon sekarang menjadi rekan kerja disebuah rumah sakit. Rumah sakit yang sama dengan dokter Han. Sungmin juga yang menangani tentang masalah penyakitku ini.

Sedangkan aku terus melukis dan mengembangkan studioku sendiri di Seoul.

Hari ini tiba-tiba saja dokter Han memanggilku ke rumah sakit. Entah apa yang terjadi,tapi Sungmin tampak mengetahui sesuatu. Sepanjang perjalanan tidak satu patah katapun yang diucapkannya duluan, kecuali aku yang bertanya.

Aku rasa akan ada berita buruk yang akan disampaikan dokter Han. Tapi aku tetap pada pendirianku yang pertama bahwa aku akan menerima apapun yang akan terjadi pada hidupku, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.

Setelah panjang lebar menjelaskan hal-hal yang tidak aku mengerti, doker Han pun akhirnya menarik nafas panjang dan berkata, “Youngjin-a, kita harus segera melakukan operasi.”

Aku menatap doker Han, Siwon, dan Sungmin bergantian.

“baiklah, akan aku lakukan.” Jawabku yakin.

***

Hari ini adalah hari yang sudah kami sepakati untuk dilakukannya operasi.

Sekali lagi aku menatap kamarku, lukisanku, tempat tidurku, dan semua kenangan yang ada didalamnya. Mungkin ini adalah terakhir kalinya aku dapat melihat kamarku.

Dengan kemungkinan 70% berhasil seperti yang dikatakan Siwon, aku melangkah turun dengan yakin. Aku percaya mereka bertiga akan melakukan yang terbaik untukku.

Seperti biasa Lin ahjuma dan Sungmin sudah menunggu di ruang tamu. Lin ahjuma terlihat agak pucat hari ini. Mungkin ia juga takut, sama sepertiku. Aku bisa merasakannya dari tanganku yang mulai terasa dingin.

Setelah berpamitan dengan Lin ahjuma dan Hwang ahjusi, Sungmin mengambil tasku lalu menggandengku menuju mobilnya.

Berbeda dengan waktu itu kali ini Sungmin jadi banyak bicara, sedangkan aku hanya menjawabnya seperlunya. Lalu Sungminpun berhenti bicara. Ia menggenggam tanganku. Ternyata sama sepertiku, tangan Sungmin juga terasa sangat dingin.

Aku tersenyum.

“gomawo Sungmin-ssi.” kataku pelan

“ne?”

“hmm, terimakasih karena kau sudah menjadi Sungminku.” Jawabku sambil meletakan tanganku yang satunya diatas genggamannya.

Aku menengok kearahnya dan menatapnya agak lama.

‘mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku melihatmu Sungmin-ssi.’

“jangan menatapku seperti itu!” katanya tiba-tiba tanpa melihat ke arahku.

Aku sedikit terkejut dengan apa yang dia katakan. Sungmin seakan-akan tahu apa yang aku pikirkan.

Tanpa terasa aku meneteskan airmata.

“Han Youngjin, kau…jangan pernah berpikir kalau aku akan membiarkanmu meninggalkan aku. Apalagi diatas meja operasiku.jangan pernah.”

“Sungmin-a…”

Tiba-tiba ia menghentikan mobilnya.

Ia membalikan badannya dan menatapku dalam-dalam.

“ini.” katanya sambil menyodorkan sebuah kotak merah kecil padaku. Aku mengambilnya dan membukanya.

Sebuah cincin dengan batu berlian kecil yang sangat cantik bertengger disana.

Sungmin-ssi mengambil cincin itu dari tempatnya.

“Han Youngjin, would you marry me?” tanyanya sambil menatapku serius. Tatapan yang sama yang ia tunjukan 4 tahun yang lalu.

Aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya mengangguk. Hatiku rasanya hampir meledak dibuatnya.

Aku memperhatikan cincin tadi yang sekarang sudah tersemat di jari manisku.

“Youngjin-a, sekarang kau sudah punya janji untuk hidup denganku, jadi jangan pernah berani berpikir kalau kau akan meninggalkan aku. Arachi??”

Aku masih memperhatikan cincin yang ada dijariku. Masih tidak percaya ini terjadi.

“saranghae Youngjin-a” kata Sungmin lagi.

Lalu dia memelukku.

“aku janji, aku pasti akan menepati janjiku, Sungmin-a” bisikku padanya

Sungmin melepaskan pelukannya dan tersenyum padaku.

“baiklah, kalau begitu, gatja!!!” teriak Sungmin sambil langsung memacu mobilnya menuju rumah sakit.

***

Setibanya di rumah sakit, Siwon dan dokter Han sudah menunggu kami dengan baju serba biru.

‘sekaranglah waktunya’ seruku dalam hati.

Aku tersenyum selebar-lebarnya pada mereka berdua. Merekapun demikian.

Aku masih memegang tangan Sungmin disampingku erat-erat. Tangan kami tidak lagi dingin. Aku juga sudah tidak melihat kekhawatiran pada wajahnya seperti saat tadi menjemputku.

Lalu dua orang perawat menghampiriku dan memintaku mengikuti mereka. Sungmin melepaskan tanganku dan memberikan isyarat padaku untuk mengikuti mereka. Aku mengiyakan sambil tersenyum.

Aku berjalan menyusul kedua perawat itu. Sebelum masuk ke sebuah ruangan, aku kembali berbalik dan melihat Sungmin.

“YAKSOKHAE??” teriakku sambil menunjuk kearah cincin yang melingkar di jariku

“NE, YOUNGJIN-A!!” balasnya sambil melambaikan tangannya. Di belakangnya aku bisa melihat dokter Han memukul kepalanya.

Aku tertawa kecil.

Lalu mereka bertiga melambai bersamaan sampai aku membalikan badanku dan masuk kedalam ruangan itu.

***

#Sungmin#

Hujan kembali turun hari ini.

Menambah dingin hariku dimana hari ini seseorang sudah tidak lagi bisa menepati janjinya untuk terus menemaniku.

“Sungmin-ssi, ayo kita pulang. Hujannya sudah mulai deras.” Pinta Siwon padaku yang dari tadi terus menatap batu bertuliskan ‘HAN-Youngjin’.

Siwon mendekat kearahku lalu merangkul bahuku.

“ayolah Sungmin-ssi. Yoojin juga pasti sudah lelah hari ini.” Bujuknya lagi.

Lalu aku mengangguk dan meraih sebuah tangan mungil milik seorang anak yang dari tadi berdiri disampingku. Yoojin, putriku satu-satunya. Harta peninggalan Youngjin-ssi yang paling berharga setelah 20 tahun menikah denganku.

“Yoojin-a, gatja!!” seruku pada Youngjin kecilku.

“ne, appa”

“omma chaljayo. Annyeonghi gyeseyo.” ucapnya dengan sangat manis sambil membungkukkan tubuhnya.

Sekali lagi aku menatap ketempat Youngjin-ssi beristirahat untuk selamanya.

‘Youngjin-a, kokjong hajimaseyo. Aku pasti akan menjaga Yoojin-ssi dengan baik. Yaksokhae!’

The End

Advertisements

Actions

Information

One response

5 03 2010
Yuni

Ceritanya kereeeen… ;-(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: