promise~#part 1

27 01 2010

Besok adalah hari pertamaku bertemu dengan teman-temanku lagi setelah 3 bulan terakhir ini aku selalu di rumah.Terutama dengan seorang cowo yang selalu menemaniku lewat sms selama 2 bulan belakangan ini.

Semalaman aku memikirkan tentang apa yang akan aku pakai dan apa yang akan aku lakukan saat aku bertemu dengannya.

Aku bukanlah orang yang bisa banyak bicara ketika berhadapan langsung dengan seseorang yang aku sukai, apalagi jika orang itu sudah tahu kalau aku menyukainya.

Lee-Sungmin, siswa ByeolParan High School, cowo yang aku sukai sejak aku pertama kali bertemu dengannya sebagai pacar sahabatku. Saat itu tentu saja aku tidak berani mengatakan kalau aku suka padanya karena sahabatku sangat menyukainya. Aku pikir selamanya aku tidak akan bisa mengatakannya, tapi akhirnya karena terpaksa mengikuti kemauan ayahnya, sahabatku pindah ke China dan mengakhiri hubungannya dengan Sungmin. Dan sebelum pergi sahabatku mengatakan padaku kalau ia tahu aku juga menyukai Sungmin dan memintaku menyukai Sungmin sama seperti yang ia lakukan. Begitulah akhirnya aku dan Sungmin bisa menjadi dekat, juga karena kami kebetulan berada dikelas yang sama di tahun ke 2.

Tapi seperti yang kuduga Sungmin sama sekali tidak menyadari kalau aku menyukainya. Bahkan ia kadang mendesakku untuk segera mencari seorang kekasih, dan aku hanya bisa tersenyum masam sambil mengatakan ‘nanti’. Aku terus mengatakan hal yang sama sampai tahun kedua berakhir dan sesuatu membuatku tidak bisa lagi berada di sekolah itu. Tidak bisa bersama Sungmin lagi.

Ommaku memaksaku untuk sekolah dirumah karena sebuah alasan yang hampir tidak bisa aku terima. Omma bilang aku harus banyak belajar tentang melukis dan meneruskan pekerjaannya sebagai seorang seniman. Aku tahu memang hanya akulah yang bisa meneruskan pekerjaan ommaku ini karena aku adalah anak satu-satunya yang ia miliki. Appa telah meninggal sebelum aku lahir, jadi ommalah yang berusaha membesarkanku sendiri selama 18 tahun ini dan lukisan-lukisan omma itu yang membuat kami bisa bertahan hidup sampai sekarang ini. Aku sendiripun memang pandai dalam hal ini, tapi aku lebih tertarik untuk membuat komik dari pada melukis di atas kanvas seperti omma.

Dan sekarang disinilah aku,Han-Youngjin,terkurung di sebuah rumah besar yang selalu kosong dan sepi, dengan kanvas yang hampir bertebaran disetiap ruangannya.

***

Dari pagi aku sudah bangun dan merapikan rambut hitamku yang lurus ini didepan cermin. Omma seperti biasa sudah pergi duluan ke studionya di seoul, jadi aku hanya tinggal bertiga dengan Lin ahjuma dan Hwang ahjussi.

Saat aku masih sibuk didalam kamar, Lin ahjuma sudah mengetuk pintu kamarku.

“Youngjin-a, ayo cepat turun kebawah. sarapannya sudah siap” perintah Lin ahjuma yang hanya melongok dari balik pintu.

“baiklah. Tapi bisakah Lin ahjuma membantuku sebentar disini? Aku tidak bisa menemukan kalung halmoni.”pintaku padanya sambil terus membuka semua laci didalam lemari pakaianku.

Tak lama Lin ahjuma sudah berada di sampingku dengan kalung halmoni menggantung di tangannya. Ia tersenyum.

“kau in, selalu lupa kalau meletakan barang berhaga seperti ini. Kemarin aku menemukannya menggantung di kamar mandi. Sini biar aku bantu.”

“ah,benarkah? Berarti aku lupa mengambilnya lagi dari gantungan pakaian setelah mandi kemarin.hehe.gomawo Lin ahjuma.” Kataku sambil memperhatikannya memakaikan kalung itu dari cermin.

“nah, selesai. Ayo kita turun.” Ajak Lin ahjuma

“ne!!!” jawabku semangat.

***

Sekarang aku sudah berada di depan pintu gerbang ByeolParan High School. Tidak ada yang berubah dari sekolah ini.

Baru beberapa langkah melewati pintu gerbang besar itu, poselku bunyi.

‘kim-Byorin’

“ne yeoboseyo?”jawabku.

“yaa!! Youngjin-a!!odie*?” teriak suara dari seberang.*/dimana

“aku sudah ada di pintu berbang. Kau dimana Byorin-a?”

“kami di gedung kesenian ruang 3, Heeye sedang latihan. Cepat kesini!”

“ne, arasso.”

Aku kembali memasukan poselku kedalam saku, tapi kemudian aku teringat sesuatu dan mengeluarkannya lagi.

‘to: lee-Sungmin

Sungmin-ssi, odie?

Aku sudah sampai.’

Setelah mengirim pesan itu aku langsung berlarian kecil sambil melihat ke sekeliling, siapa tahu aku bertemu dengan Sungmin. Minggu ini sekolah ByeolParan sedang mengadakan acara perlombaan kesenian dan olahraga rutin yang melibatkan banyak sekolah lain, jadi sekolah terlihat sangat ramai. Apalagi dengan adanya stand-stand yang dibuat di sekitar sekolah.

Sampai di gedung kesenian, latihan Heeye sudah selesai dan teman-temanku sudah berada di depan ruangan. Tapi tidak ada Sungmin.

‘kemana anak itu? Dia bahkan tidak membalas pesanku’ tanyaku dalam hati.

Begitu melihatku, Byorin dan Chaeri langsung berteriak dan berlari kearahku. Mereka menarikku sebuah sudut dekat balkon tempat kami sering berkumpul dulu.

Kami langsung ribut dan saling bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan dan tentang sekolahku. Tapi hal pertama yang mereka semua pertanyakan adalah bentuk tubuhku yang semakin kurus. memang setelah aku keluar dari sekolah ini 6 bulan yang lalu, aku sudah turun 5 kilogram. Bukan karena aku sengaja melakukannya, tapi entah kenapa setiap bulannya aku selalu kehilangan 1 kilogram.

Sudah hampir 2 jam kami mengobrol disitu sampai akhirnya bel berakhirnya acara hari ini berbunyi.

Tapi Sungmin masih belum muncul juga.

3 sahabatku Byorin, Chaeri, dan Heeye sudah mulai membereskan barang-barangnya dan bersiap-siap pulang. Begitu juga dengan yang lain.

Terpaksa aku harus mengikuti mereka keluar gedung.

Berbeda dengan keadaan didalam gedung yang sudah mulai sepi, diluar gedung masih sangat ramai dengan murid-murid yang sedang menonton pertandingan basket dan sepakbola.

Karena 3 sahabatku sudah harus pulang akhirnya aku tinggal sendiri, berdiri diluar lapangan basket sambil mencari-cari orang yang aku kenal untuk menemaniku.

Tidak lama kemudian seseorang menepuk bahuku dari belakang.

“noona!” sapa orang yang berdiri dibelakangku ini

“Siwon-ssi!! annyeong!” sapaku setelah melihat wajah yang yidak asing lagi buatku ini.

Siwon-ssi temanku dari Junior High School yang sempat pindah keluar negri dan akhirnya kembali karena orangtunya yang selalu berpidah-pindah. Sebenarnya dia seumur denganku, hanya saja dia lebih muda beberapa bulan dariku. Ia bersikeras untuk memanggilku noona, padahal aku sudah sering melarangnya. Dia bilang semua orang yang lahir walaupun hanya berbeda 1 hari tetap saja harus dihormati. Dan alasannya itu terus saja ia ajukan sampai akhirnya aku menyerah dan mengijinkannya memanggilku dengan sebutan ‘noona’.

Setelah mengobrol sebentar dengannya, ia menawarkan padaku untuk masuk ke dalam lapangan. Dari yang aku lihat sepertinya tidak sembarang orang bisa masuk karena di luar pagar lapangan banyak sekali siswa yang berkerumun untuk melihat kedalam.

“tenang saja noona, aku ini ketuanya. Tentu saja kau bisa masuk denganku.” Jawabnya sambil tersenyum saat aku menolak ajakannya.

Dan benar saja ketika kami melewati panitia yang menjaga pintu masuk, mereka membiarkanku masuk begitu saja setelah Siwon membisikan sesuatu pada cewe berseragam panitia itu. Mereka bahkan tersenyum padaku sambil sedikit menunduk.

Aku mengejar Siwon yang sudah duluan masuk saat para panitia itu memberikanku sebuah pin bertuliskan ‘crew’.

“Siwon-ssi, apa yang kau katakana pada mereka tadi?” tanyaku penasaran.

“tidak ada.” Jawabnya santai

“bohong?” desakku lagi.

Dia berbalik dan tersenyum padaku.

“kan sudahku bilang aku ketuanya noona. Ayo, pertandingannya sudah hampir mulai”

Lalu dia menarik tanganku dan kami berjalan menuju ke sisi lapangan, tempat para pemain ByeolParan berkumpul. Sebentar lagi pertandingan sepak bola putri akan dimulai. Disitu aku bisa melihat ada beberapa kenalan lamaku yang juga menjadi pemain yang sedang diberi pengarahan oleh pelatihnya.

Pertandingan pun dimulai. Para siswa yang berada didalam dan juga penonton yang diluar mulai meneriakkan ‘byeolparan hwaiting’ dengan sangat keras. Kadang mereka meneriakkan nama beberapa pemain.

Sampai ditengah permainan seseorang memanggil namaku.

“Youngjin-a!!”

“Sungmin-ssi!! kemana saja kau? Aku sudah menunggumu dari tadi tau! dasar menebalkan!” “mianhae Youngjin-a. aku baru saja selesai menonton pertandingan dilapangan indoor.” Jawabnya sambil tersenyum.

“dengan siapa kau kesini? Eh,tunggu dulu. Bagaimana kau bisa masuk??” lanjutnya dengan nada bingung.

Aku tersenyum kecil, “karena  itu.” Jawabku sambil menunjuk Siwon-ssi yang sedang mengurus beberapa masalah di meja juri.

“oh, Siwon-ssi. pantas saja.” Jawabnya santai. Jawaban yang tidak aku inginkan.

‘kenapa sih dia tidak menunjukan sedikitpun kecemasan saat aku bersama cowo lain? Dasar menyebalkan!’ gerutuku dalam hati

Setelah perdebatan antara kedua pelatih tim selesai, pertandingan dilanjutkan kembali.

Sekarang aku sudah tidak teralu memperhatikan pertandingannya karena cowo disebelahku ini. Aku hanya terdiam sambil berpikir apa yang sebaiknya aku bicarakan denganya. Tapi orang yang sedang aku pikirkan sekarang ini malah menujukan seluruh perhatian pada pertandingan di depan matanya dan tidak melirikku sama sekali. dia bahkan ikut berteriak bersama dengan penonton lain saat tim ByeolParan hampir menjebol gawang lawan.

Akhirnya peluit tanda permainan usai dibunyikan. Penonton yang ada didalam lapangan langsung berhamburan menghampiri para pemain ByeolParan yang berhasil mendapatkan juara pertama. Begitu juga orang yang dari tadi sudah membuatku kesal ini. Detik pertama setelah peluit dibunyikan dia langsung berlari ke tengah lapangan. Menghampiri seorang cewe berambut pendek yang baru saja bermain dan memeluknya.

Aku kaget setengah mati.

Aku benar-benar sudah sampai batasnya sekarang.

Aku benar-benar marah, mungkin bukan hanya marah, tapi aku sudah muak.

Dia yang mengajakku untuk datang ke acara ini, tapi dia malah baru datang setelah semua hampir selesai. Aku menghubunginya tapi ia tidak membalas sama sekali. setelah datang malah tidak menanyakan apa-apa. Sekarang setelah semua selesai dia malah memeluk seorang cewe didepanku.

Sungmin-ssi!! kau sangat keterlaluan!!

***

Selama di mobil aku hanya melihat kearah luar. Tidak terasa air mata sudah mengalir deras di pipiku.

‘Sungmin-ssi jahat sekali!!’ hanya itu yang terpikir olehku sampai mobil yang dikendarai Hwang ahjussi berhenti di depan rumahku.

Aku masuk ke rumah dan langsung masuk ke kamar tanpa menyapa Lin ahjuma seperti biasa.

Aku berusaha menahan air mataku tapi tidak bisa, karena setiap aku mencobanya dadaku terasa sesak sekali. aku merasakan nafasku semakin tersenggal-senggal. Aku tidak menahan air mataku tapi dadaku masih terasa sangat sakit.

Aku merasa ada yang tidak beres disini. Akhirnya aku tidak menangis lagi, tapi aku berusaha keras untuk mengatur nafasku yang masih sangat sesak. Jari-jari tanganku mulai terasa dingin, begitu juga dengan kakiku. Aku berusaha menggerakan badanku, mencoba meraih telpon disamping ranjang untuk memanggil Lin ahjuma. Tapi aku malah terguling ke tempat tidur.

Aku hanya bisa berteriak dalam hatiku ‘Lin ahjuma, tolong aku!!Hwang ahjussi!’

Sekarang sekujur tubuhku sudah terasa kaku.

‘Sungmin-ssi tolong..’

2 be kontinue~^^

comment please……<3

Advertisements

Actions

Information

One response

27 01 2010
choko_chay

YA…!!! Sungmin oppa..!!!
kau tak sensitive skali seh… bikin gemes aja…!! >.<
yaelah youngjin sabar kali kau menanti Sungmin…
eeehh… ITU YOUNGJIN lu apain HAN…???? *kidding* ^^
lumpuh kh ya..???

lanjutkn FF nya….!!!! tingkatkan prestasimu..*kyk ank skolahan aja*
tu CEWEK SAPA GE… ganggu aja..!!!

thx for share..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: